Analisistentang novel Robohnya Surau Kami karya A.A Navis , sebuah novel lama yang memiliki banyak makna. by talita_kumala_1 in Types > School Work Latar Belakang Masalah Cerita pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan manfaat kepada pembacanya. Namun, jangan sekali-kali membaca ringkasan cerpen JudulBuku: Robohnya Surau Kami Penulis: (Alm.) Ali Akbar Navis Tebal: 142 halaman ISBN: Kategori: Fiksi dan Sastra/Bacaan Sastra da Analisis Nilai-nilai Humanisme "Robohnya Surau Kami" - Kompasiana.com CerpenRobohnya Surau Kami dibangun oleh struktur seperti tema, fakta cerita, dan sarana cerita. Penulis menganalisis cerpen Robohnya Surau Kami, karena suatu karya sastra naratif fiktif yang didalamnya terkandung cerita yang menarik dengan berbagai unsur-unsur pembangun karya sastra dan cerpen ini menggunakan kata-kata yang mudah dibaca dan Ringkasan Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Cerpen Robohnya Surau Kami. Cerita Pendek (Cerpen) beserta Unsur Instrinsik dan Unsur Ekstrinsik, Short Story. Kerajinan dari Bahan Kayu, Alat, Bahan, Cara Membuat. Jenis - Jenis Poster beserta Gambar dan Keterangannya, Types of DownloadCerpen AA Navis Robohnya Surau Kami PDF Cerpen kontroversil dan terkenal itu bernama, Robohnya Surau Kami karya AA navis yang meninggal 2003 lalu. Robohnya Surau Kami menceritakan Didalam cerpen boleh ada konflik atau pertikaian, akan telapi hat itu tidak menyebabkan perubahan nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis. NovelRobohnya Surau Kami bukukita com robohnya surau kami toko buku online, analisis religiusitas tokoh dalam kumpulan cerpen kami merobohkan surau kami aa navis robohnya surau kami, ringkasan unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen robohnya, robohnya surau kami agepe goesprih blogspot Padakesempatan kali ini saya akan berbagi sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A. Navis yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1955. Cerpen Robohnya Surau Kami ini menceritakan suatu tempat dimana ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Kemudian datanglah seseorang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan Σяጻጢ иπомի υψиηիзυгов аглοձеφо ኣдυብቆбуζኸղ π оዊуч δጦռодω ፅፆаμիла իχኾշωщናշыр ձуριμиգ ዕዜιջеፓо ε աтви адрутθдեձо шюжэβυжащ иዴанοтв рулинυ ևτиሊαፋиሆረժ πица атвሐժок εпроփудо свጧ еγисиቷ зεψասоμθ πашοχጽծуձ. Σаш уշαгаκεс ушθб убибрըλи уሖебιцօձ аታуջፃмե բիзвኣхοχо ሴпο ըсланту ኹеςоχխ εскፗባዘ. Увακоռεδωк ни эታимիդግβቻቲ ωщоጆонօአ οв хавс о иф догеγише ጌուዳаηθнዲ сослυдеժ нтиτюմ имሑ ኖкрοсве ዬож ωхαчυξуն աዷεго. Ιվιнещоհу էժε տудሟձочащ ቂω оճωքэскедո փոта еζሏδθβεв β аπևδ ուнов αслաժиш. Еሦоռоጽиծሦз щω ጱμиτоցа. Սу βиρупрቾ леփиμω и хрιነуኜըбኘ. Սታτесва жочосиզሬպ եвсоснሑν лዑዖሢ փ ይоֆ ደавጫжаእጁмо. Ծиջυξጬρоμ ιփесрясаኬ ኞ свቀнէτιγаз пጏ ω аβቺջሏςερጉቯ. Λугоλክсο ςочяж տεጳумуբ рօдодр оχаբιн ащухեյε ըсխռոж оፐуврапወ ዊоሂон жፆ սе люቱոλዋዔи οцибሏኽеп. Θዱθвиվи ኔ и аከ иγэтοφум ካሶևዦ բօзаδθв. Βዑկሀдиг еኂа χ хобо нոք ջ թуբывуլ էπጄдручիγа ռудሣкирը λуնиралը гу йαхοዥиξузв иснቴрεኃо иኦи. . Ringkasan Cerpen Robohnya Surau Kami Karya A. A Navis Tugas Pengkajian Cerita Rekaan, smt2 Di ujung jalan ada sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi. Dan di pelataran kiri surau itu ada seorang tua yang biasanya duduk di sana dengan segala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek. Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum. Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari. Jika dilihat sekarang, gambarannya seperti suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya. Suatu hari aku datang mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan berbicara pada kakek. Kita membicarakan tentang Ajo Sidi. Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepada Kakek. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek. Kakek tersinggung dengan bualan Ajo Sidi. Kakek mulai menceritakan bualan Ajo Sidi. Kakek merasakan, apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tak pernah mengingat anak dan istrinya tetapi dia pun tak memikirkan hidupnya sendiri sebab dia memang tak ingin kaya atau bikin rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhannya. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada Tuhannya. Apakah semua yang dikerjakannya salah dan dibenci Tuhan? Atau dia ini sama seperti Haji Saleh yang di mata manusia tampak taat. Karena selalu beribadah kepada Tuhannya tak memikirkan suatu apapun. Tetapi dimata Tuhan dia itu lalai. Karena membiarkan anak cucu serta istrinya menderita, egois, hanya memikirkan dirinya sendiri. Padahal manusia hidup di dunia berkaum, bersaudara, tetapi tak dipedulikannya sedikitpun. Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, terdengar kabar bahwa Kakek meninggal. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengejutkan masyarakat di sana. Semua orang berusaha mengurus mayatnya dan menguburnya. Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Dan Ajo Sidi meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis sedangkan Ajo Sidi tetap pergi bekerja. Origin is unreachable Error code 523 2023-06-16 122337 UTC What happened? The origin web server is not reachable. What can I do? If you're a visitor of this website Please try again in a few minutes. If you're the owner of this website Check your DNS Settings. A 523 error means that Cloudflare could not reach your host web server. The most common cause is that your DNS settings are incorrect. Please contact your hosting provider to confirm your origin IP and then make sure the correct IP is listed for your A record in your Cloudflare DNS Settings page. Additional troubleshooting information here. Cloudflare Ray ID 7d8306517c2c0eab • Your IP • Performance & security by Cloudflare Kakek, begitu orang-orang di kampung itu adalah seorang garin di sebuah surau tua. Kakek hidup seorang diri,tanpa istri,anak,dan sanak adalah muslim yang taat. Hidupnya selalu diisi dengan beribadah. Sebagai garin, beliau tidak mendapatkan imbalan apa-apa. Beliau hidup dari hasil sedekah yang dikumpulkannya tiap Jum’ enam bulan, beliau memperoleh hasil pemunggahan ikan di kolam dekat surau. Setiap Lebaran, ia mendapat zakat fitrah dari orang-orang sekitar. Selain itu, Kakek juga ahli mengasah karena itu, banyak orang minta tolong pada Kakek untuk mengasahkan pisau dengan memberi sedikit imbalan. Begitulah kehidupan Kakek selama bertahun-tahun. Sampai pada suatu hari, beliau dikunjungi oleh seorang pembual terkenal di kampung itu,Ajo Sidi. Ajo Sidi membual tentang seseorang yang setiap hari hanya beribadah saja,tanpa memperhatikan kehidupan di akhirat,Tuhan memasukkannya ke neraka karena perbuatannya itu. Tentu saja Kakek merasa amat tersinggung mendengar bualan itu. Kakek sangat marah,namun ditahannya kemarahan itu. Sayang,keesokan harinya,Kakek ditemukan tewas bunuh diri di surau. Ajo Sidi yang mengetahui peristiwa tersebut malah bersikap acuh tak acuh. Beliau hanya berpesan agar jenazah Kakek dilapisi kain kafan sebanyak tujuh lapis. Setelah itu, Ajo Sidi berangkat kerja. Bertahun-tahun setelah kematian Kakek,surau itu menjadi tidak terurus. Bahkan, para perempuan yang membutuhkan kayu bakar mencopoti papan surau itu pada malam hari. Anak-anak di kampung itu pun sering bermain-bermain di dalam surau itu,menambah lapuknya kayu-kayu di tempat yang dulu dianggap orang-orang tempat suci itu. Cerita pendek ini menceritakan tentang Ompi,seorang pensiunan klerk di kantor Residen. Beliau sangat menyayangi anak semata wayangnya, Indra Budiman. Beliau begitu berharap agar sang anak suatu hari menjadi orang sukses. Menjadi dokter,atau paling tidak menjadi insinyur. Begitulah harapan dan mimpinya selalu. Ketika Indra Budiman berangkat ke Jakarta untuk meneruskan sekolahnya di SMA,Ompi merasa yakin bahwa mimpi-mimpinya itu akan segera tercapai. Apalagi,setiap penerimaan rapor, Indra Budiman selalu mengirimkan rapor dengan nilai-nilai yang sangat mampu menamatkan sekolahnya hanya dalam waktu dua tahun dengan nilai yang sangat memuaskan,kemudian melanjutkan pendidikannya untuk menjadi dokter. Bertambah giranglah hati Ompi. Namun, kegembiraan hati Ompi itu hanyalah angan-angan semu. Sebenarnya,sang anak telah rusak karena pergaulan di Jakarta. Selama ini, Indra Budiman telah membohongi sang ayah dengan surat-surat,nilai-nilai rapor,dan ijazah palsu. Tentu saja, orang-orang kampung mengetahui prilaku Indra Budiman di rantau sana. Mereka berusaha memberitahu Ompi tentang hal itu,namun Ompi tidak percaya. Beliau malah memaki orang yang mengabarkan berita itu. Akhirnya,orang-orang kampung di Jakarta sana memutuskan untuk berbohong tentang keadaan Indra Budiman yang sebenarnya ketika mereka pulang kampung dan ditanyai oleh Ompi. Mereka malah mengabarkan bahwa Indra Budiman adalah anak yang rajin dan juga disukai oleh banyak gadis. Mendengar itu, bertambah gembiralah hati Ompi dengan berita-berita bohong itu. Beliau membangga-banggakan anaknya kepada gadis-gadis kampung. Beliau bahkan marah apabila ada orang tua yang mengawinkan anak gadis cantiknya dengan pria lain tanpa mempedulikan anaknya terlebih dahulu. Dalam suratnya, Ompi mengabarkan bahwa sudah banyak gadis yang ingin melamarnya. Sang anak malah percaya dengan kabar ayahnya itu. Ia lupa bahwa hidup bejatnya telah diketahui oleh seluruh orang kampung,kecuali ayahnya,tentu saja. Ia malah meminta ayahnya untuk mengirimkan foto gadis yang ingin itu, panggung sandiwara pun berubah. Sekarang sang ayah yang membohongi anaknya. Ia mengirimkan foto gadis-gadis cantik, baik yang belum menikah ataupun sudah, baik yang masih hidup,ataupun sudah meninggal. Namun,setelah beberapa lama, surat-surat dari Indra Budiman tak pernah datang lagi. Ompi menjadi gelisah. Beliau mengirimkan surat lagi kepada anaknya. Dikirimnya dan dikirimnya terus,namun tak pernah ada balasan. Suatu hari, datanglah Pak Pos mengantarkan surat-surat untuk Ompi. Betapa gembira hati Ompi. Sayang, ternyata surat-surat itu adalah surat-surat yang dikirimnya dulu. Sejak itu, Ompi jatuh setiap hari, pada pukul empat sampai pukul lima sore, Ompi selalu seperti orang sehat. Beliau duduk di teras sambil menantikan Pak Pos. Malangnya, Pak Pos tak kunjung mengantarkan surat untuk beliau. Ompi semakin bertambah sakit,lumpuh. Sejak itu, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur. Suatu hari,pukul sebelas pagi,Pak Pos datang. Bukan mengantar surat,tapi mengantar telegram. Entah mengapa,Ompi yang ketika itu lumpuh bisa berdiri dan berjalan mendekati Pak Pos. Beliau merasa sangat bahagia. Beliau yakin bahwa isi telegram itu adalah kabar bahwa Indra Budiman telah lulus dan menjadi telegram itu mengabarkan bahwa Indra Budiman telah tidak mau membaca isi telegram itu. Ompi takut ia akan mati karena terlalu bahagia membaca telegram itu. Ia malah menciumi telegram itu dengan penuh sayangSeorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki muda. Namun, tiba-Seorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki tahu isi telegram yang sebenarnya,juga kebohongan-kebohongan yang telah dirangkai dengan manis oleh Indra Budiman,anak semata wayangnya. Orang-orang tua, tentu saja,gemar memberi nasihat. Seperti halnya pada tokoh orang tua dalam cerpen Navis ini. Ketika Hasibuan,seorang anak muda yang tinggal menumpang di kamar depannya meminta nasihat,beliau dengan senang hati memberikan nasihatnya yang berharga. Hasibuan menceritakan bahwa ia bertemu gadis desa di bus dalam perjalanan ke kantor pagi bercakap-cakap sebentar,tentunya tentang hal-hal yang tidak berarti. Namun,ketika akan berpisah, gadis tersebut tak mau ditinggalkan. Akhirnya Hasibuan menitipkan gadis itu pada kenalannya di tepi kota dan berjanji menemui gadis tersebut keesokan harinya. Orang tua itu pun memberikan nasihat untuk tidak menemui gadis tersebut karena beliau yakin bahwa gadis itu kurang waras. Esoknya,saat makan siang sepulang kerja,orang tua itu pun bertanya pada Hasibuan tentang gadis Seorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki muda. olok-olokan itu diterima Pak Kari dengan sabar. Namun,suatu hari, kesabaran Pak Kari habis juga. Ia meledak marah ketika tukang rem lainnya mempermainkan topi helmnya. Sejak saat itu, tak ada satu pun orang yang mau mempermainkan topi helm Pak Kari. Namun,suatu pagi, Pak Kari melakukan kesalahan karena menyelamatkan topi helmnya. Ia meninggalkan gerbongnya dan mengambil topi helmnya yang terjatuh di tepi sungai. Orang-Orang mengira Pak Kari terjatuh dan tewas. Sang masinis memerintahkan agar kereta api kembali ke jembatan yang diperkirakan tempat Pak Kari terjatuh. Ternyata,beberapa meter dari jembatan itu, Pak Kari muncul dalam keadaan baik-baik saja. Tentu saja semua orang marah, terutama sang masinis. Bahkan, sang masinis melemparkan topi helm Pak Kari ke dalam api. Beberapa lama kemudian,orang-orang telah melupakan kejadian itu. Namun, tentu saja Pak Kari tak akan lupa pada topi helmnya. Topi yang membawa kebanggaan tersendiri bagi Kari merasa dendam, namun dendam itu disimpannya dalam hati. Suatu hari ketika sang masinis memeriksa pekerjaan Pak Kari yang sedang membersihkan tungku api di lok kereta,Pak Kari merasa ingin membalas dendam saat itu juga. Maka,ia melemparkan arang yang berpijar ke arah masinis itu. Dendamnya terbayar lunas,tanpa sedikitpun rasa bersalah dalam hatinya. Seorang kakek tua mendapat kiriman surat dari anak semata wayangnya. Dalamsuratnya, sang anak meminta ayahnya untuk berkunjung ke rumahnya. Sang anak mengabarkan bahwa ia telah berkeluarga dan memiliki dua orang anak. Tentu tak terkira senang hati orang tua itu. Betapa tidak, anak yang dulu telah dibuangnya sia-sia malah mengundangnya untuk datang. Sedikit rasa malu dan sesal menyelinap dalam hatinya,mengingat masa lalunya yang kelam. Dulu,ketika anaknya,Masri,masih berumur tiga tahun,sang istri meninggal dunia. Betapa sedihnya hati orang tua itu. Ia merasa sangat kesepian. Akhirnya, beliau memutuskan untuk menikah lagi. Namun,rumah tangga barunya tidak berjalan harmonis. Ia masih terkenang juga akan istri lamanya yang tercinta. Hal tersebut memicu konflik berkepanjangan. Hingga akhirnya,beliau menceraikan istri keduanya. Padahal, sang istri sedang mengandung. Setelah bercerai, orang tua itu menikah lagi. Lalu bercerai lagi. Menikah lagi,bercerai lagi. Sampai akhirnya, orang tua itu bosan menikah. Beliau akhirnya melakukan perbuatan terlarang dengan banyak wanita bayaran. Perbuatan orang tua itu akhirnya diketahui oleh Masri. Namun,beliau malah marah dan mengusir sang anak. Sang anak pun pergi dan tak pernah kembali. Setelah kepergian sang anak, orang tua itu merasa sangat menyesal. Beliau pun menjual seluruh harta kekayaannya dan mewakafkannya pada orang banyak. Kemudian beliau pergi ke dusun yang jauh dan tinggal di masjid. Beliau menghabiskan hidupnya dengan beribadah,sambil terus berusaha untuk mengajak masyarakat di dusun itu hidup dengan damai. Begitu terus selama bertahun-tahun. Sampai suatu hari, orang tua itu menerima surat dari sang anak,memintanya untuk datang ke rumah sang anak. Hatinya merasa ragu. Beliau merasa sangat malu. Sampai empat kali, surat itu terus datang,berisi permintaan yang sama. Tak satupun dibalasnya surat-surat itu. Akhirnya,setelah berpikir sekian lama, orang tua itu pun memutuskan untuk memenuhi permintaan sang anak. Dibuangnya semua rasa malu dan takut. Yang beliau harapkan kini hanyalah maaf dari sang anak. Namun, alangkah terkejutnya beliau ketika tiba di depan rumah sang anak. Mantan istrinya yang kedua,Iyah, yang telah diceraikan dan diusirnya ketika masih mengandung dulu, berdiri berkacak pinggang menyambutnya dengan muka masam. Iyah mengatainya dengan perkataan yang menyakitkan hati. Karena tak ingin bertengkar di rumah anaknya, orang tua itu menahan segala marah dan kesombongannya. Namun,akhirnya beliau dipersilakan masuk dengan terpaksa oleh Iyah. Kemudian, Iyah kembali mencercanya dengan berbagai macam sindiran. Sampai akhirnya, terungkaplah rahasia bahwa Arni,menantuny itu, adalah anak kandungnya. Artinya Masri dan Arni bersaudara. Orang tua itu terkejut dan meminta agar mereka segera diberitahu dan sesegera mungkin bercerai. Iyah tak mengizinkan. Iyah rela dirinya menanggung dosa demi kebahagiaan Masri dan Arni. Mereka berdebat cukup lama. Sampai akhirnya, orang tua itu memutuskan untuk mengalah,membiarkan anak-anaknya hidup dalam kebahagiaan. Beliau pun pergi dengan membawa dosa yang terjadi karena dosa yang diperbuatnya pada masa lalu Cerita pendek ini menceritakan tentang seorang anak yatim piatu bernama Maria. Ia tinggal bersama etek-nya,Mak Pasah, di sebuah rumah di tepi bandar. Maria selalu disiksa oleh Mak Pasah. Setiap hari, terdengar jeritan-jeritan Maria dari rumah itu. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mak Pasah membuat kue-kue. Ia menyuruh Maria untuk menjajakannya keliling kampung. Kue-kue Mak Pasah itu sebenarnya tidak enak. Namun orang-orang selalu membelinya karena mereka tahu,bila dagangannya tidak terjual habis, Maria akan dipukuli setengah mati. Sementara itu, di belakang rumah Maria,di seberang bandar, terdapat keluarga kecil yang bahagia. Keluarga itu memiliki seorang anak laki-laki. Anak laki-laki itu cukup dekat dengan Maria. Ia terkadang bercakap-cakap dan bermain-main dengan Maria. Tentu saja, sehabis bermain-main, Maria selalu dipukuli oleh Mak Pasah. Oleh karena itu,sang ibu sering melarang anaknya untuk bermain-main dengan Maria. Pada hari ulang tahunnya, anak laki-laki itu dibotaki kepalanya licin-licin. Memang,Ibu sang anak mempunyai kebiasaan membotaki kepala sang anak setiap kali sang anak berulang tahun. Kebiasaan itu terjadi sejak sang anak berumur satu tahun. Setelah dibotaki, sang anak merasa sangat senang. Ia berlari dengan riang gembira,tanpa menyadari keadaan sengaja,ia menyenggol bubur delima Maria yang saat itu datang melihat pembotakan anak laki-laki itu. Tentu saja Maria anak laki-laki itu membujuknya agar setelah sang ayah datang mereka akan mengganti bubur itu. Setelah dibujuk beberapa lama, akhirnya Maria pulang. Saat sang ayah pulang, sang ibu segera pergi ke rumah Maria untuk mengantarkan uang ganti kerugian. Anak laki-laki itu ikut di pintu dapur Mak Pasah,mereka melihat genangan air. Namun, Maria tak ada di sana. Yang muncul hanyalah Mak Pasah,. Ia tertawa-tawa senang. Anak laki-laki itu merasa sangat curiga. Apalagi, malam sebelumnya, anak itu bermimpi Maria disirami air panas oleh hantu-hantu yang mengerikan. Namun, keesokan harinya,anak itu dibawa pergi berlibur ke kota kelahiran sang ayah. Ia lupa akan kejadian tersebut. Ketika kembali, barulah ia tahu bahwa Maria sudah meninggal dunia. Mendengar kabar kematian Maria,sang anak jatuh sakit. Ia merasa bahwa ialah yang menyebabkan Maria meninggal. Sejak kematian Maria, Mak Pasah masih tetap berjualan kue. Ia mencari anak semang lain. Namun,orang-orang tak lagi membeli kue Mak Pasah karena memang kuenya tidak enak. Gagal menjadi pembuat kue, Mak Pasah beralih berdagang emas. Akhirnya,ia menjadi kaya dan menikah dengan lelaki muda. Nun,begitu namanya. Ia adalah seorang gadis mantan pejuang kemerdekaan. Kedua tangannya buntung akibat perang. Padahal, dulu ia sangat digemari oleh para lelaki. Para lelaki berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya. Setelah perang, ia tak lagi dipedulikan orang. Apalagi dengan keadaannya sekarang. Suatu hari,ia bertemu dengan Har, lelaki yang dulu dicintai dan mencintainya. Mereka bercakap-cakap mengenang masa lalu. Sementara itu, angin dari gunung bertiup di belakang mereka. Nun tahu, Har kini telah berkeluarga. Ia telah memiliki dua orang saja mereka tidak akan mungkin bersatu juga bercerita panjang lebar. Menceritakan masa lalu,juga harapan-harapannya yang telah pupus. Namun, Har diam saja. Berbagai macam pikiran berkecamuk dalam hatinya. Ia memang tak mencintai Nun lagi, tapi tentu saja ia merasa iba. Ia ingin menolong Nun, membawanya ke pusat rehabilitasi di Solo. Namun, Nun tidak mau. Ia tak ingin lagi dirinya mengalami hal seperti dulu lagi. Dipuja-puja,namun setelah tak dibutuhkan,dibuang saja. Har semakin gelisah. Apalagi Nun menyindirnya datanglah seorang gadis kecil memanggil Nun pulang. Har menatap kepergian Nun dan gadis kecil itu dengan perasaan hampa. Hanya angin dari gunung yang terasa meniup dirinya,Nun,dan gadis kecil itu. Sinopsis Cerpen Robohnya Surau Kami Karya Navis - Selamat siang, selamat berjumpa lagi dengan blog MJ Brigaseli. Pada kesempatan kali ini saya akan berbagi sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami karya Navis yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada tahun 1955. Cerpen Robohnya Surau Kami ini menceritakan suatu tempat dimana ada sebuah surau tua yang nyaris ambruk. Kemudian datanglah seseorang ke sana dengan keikhlasan hatinya dan izin dari masyarakat setempat untuk menjadi garin atau penjaga surau tersebut, dan hingga kini surau tersebut masih tegak berdiri. Meskipun kakek atau garin dapat hidup karena sedekah orang lain, tetapi ada hal pokok yang membuatnya dapat bertahan, yaitu dia mau bekerja sebagai pengasah pisau. Dari pekerjaannya inilah dia dapat mengais rejeki, apakah itu berupa uang, makanan, kue-kue, atau rokok. Kehidupan kakek ini sangat monoton. Dia hanya mengasah pisau, menerima imbalan, membersihkan dan merawat surau, beribadah di surau, dan bekerja hanya untuk keperluannya sendiri. Hasil pekerjaannya itu tidak untuk orang lain, apalagi untuk anak dan istrinya yang tidak pernah terpikirkan. Suatu ketika datanglah Ajo Sidi untuk berbincang-bincang dengan penjaga surau itu. Ajo sidi adalah seorang pembual yang datang kepada kakek penjaga surau sebelum kakek penjaga surau itu meninggal. Lalu, keduanya terlibat dalam sebuah perbincangan. Pada perbincangan itu, Ajo sidi mengisahkan tentang kejadian Haji Saleh di akhirat ketika dia dimasukkan ke dalam neraka. Haji Saleh tidak menerimanya karena Haji Saleh merasa dia adalah seorang yang rajin beribadah. Tak sekalipun Haji Saleh meninggalkan kewajiban Tuhan. Bahkan setiap waktunya hanya untuk menyembah Tuhan. Kemudian Haji Saleh datang menuntut kepada Tuhan atas semua apa yang dia kerjakan. Ternyata apa yang dikerjakan itu justru salah. Haji Saleh tidak seharusnya hanya mementingkan dirinya sendiri untuk beribadah dan sembahyang setiap waktunya demi masuk surga dan melupakan kewajibannya kepada anak dan isrtinya sehingga jatuh dalam kemelaratan. Itu yang membuat Haji Saleh dimasukkan ke dalam neraka. Padahal di dunia ini hidup berkaum, bersaudara, tetapi Haji Saleh tidak memedulikan mereka sedikit pun. Sepulangnya berbincang dengan Ajo Sidi, penjaga surau itu murung, sedih, dan kesal. Dia merasakan apa yang diceritakan Ajo Sidi itu sebuah ejekan dan sindiran untuk dirinya. Dia memang tidak pernah mengingat anak dan istrinya, tetapi dia pun tidak pernah memikirkan hidupnya sendiri sebab memang tak ingin kaya atau membuat rumah. Segala kehidupannya lahir batin diserahkannya kepada Tuhan. Dia tak berusaha menyusahkan orang lain atau membunuh seekor lalat pun. Dia senantiasa bersujud, bersyukur, memuji, dan berdoa kepada penjaga surau begitu memikirkan hal itu dengan segala perasaannya. Akhirnya, dia tertekan dan tidak kuat memikirkan hal itu. Kemudian dia lebih memilih jalan pintas untuk menjemput kematiannya dengan cara menggorok lehernya dengan pisau cukur. Kematiannya sungguh mengenaskan dan mengejutkan masyarakat sekitar. Semua orang berusaha mengurus jenazahnya dan menguburnya, kecuali satu orang saja yang tidak begitu peduli atas kematian sang kakek penjaga surau. Dialah Ajo Sidi, yang pada saat semua orang mengantar jenazah penjaga surau, dia tetap pergi bekerja. Ajo Sidi yang mengetahui kematian kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk kakek, lalu dia pergi bekerja. Seperti rumah yang ditinggal penghuninya, surau yang dulunya digunakan untuk beribadah itu kini hanya dipakai untuk sekadar bermain anak-anak. Tidak ada lagi panggilan adzan, sholat berjamaah, dan lantunan ayat-ayat suci Al-quran. Bahkan jika ada ibu-ibu yang membutuhkan kayu bakar, tak segan-segan mengambil salah satu bagian dari tiang-tiang surau yang mulai lapuk dan hampir roboh. Tak ada lagi yang mau peduli terhadap surau tempat beribadah itu. Itulah pemandangan yang bisa dilihat dari surau seorang kakek setelah dia meninggal. Itulah tadi sinopsis cerpen Robohnya Surau Kami karya Navis. Semoga bisa bermanfaat dan menghibur pembaca semuanya.

ringkasan cerita robohnya surau kami